Mak
Mé adalah panggilan akrab nenek kami yang sudah berusia 81 tahun.
Panggilan “Mé” di kalangan kami artinya sama dengan mama atau
ibu, sedangkan untuk papa atau ayah biasa dipanggil dengan sebutan
“Asok”. Kebiasaan itu berlanjut hingga mereka mempunyai cucu-cucu
dan panggilan akrabnya berubah menjadi Mak Mé dan Kong Asok, memang
kalau diterjemahkan menjadi lucu juga karena panggilan itu berarti
“nenek ibu” dan “kakek ayah”, tapi karena sudah biasa ya
nggak jadi masalah.
Mak
Mé adalah seorang wanita yang luar biasa, lahir di tahun 1927 di
desa Mranggen-Semarang dengan nama asli Tjan Riboet Nio. Pemberian
nama yang agak “unik” ini dapat dipahami karena pada masa itu
memang kondisi di Indonesia sedang berada pada jaman “ribut”
karena peperangan melawan penjajah Belanda. Beliau menjadi teladan
yang baik bagi 10 orang anak dan 15 cucu dan 7 buyutnya dalam hal
semangatnya untuk bekerja keras, kedisiplinannya, idealismenya, dan
ketaatannnya beribadah. Bahkan di masa tuanya yang ditandai dengan
melemahnya jantung, tekanan darah yg tidak stabil, dan sendi-sendi yg
aus dan membuatnya susah untuk berjalan, namun semangatnya masih sama
dengan ketika masa mudanya. Perhatiannya kepada anak-anak, cucu, dan
buyutnya sungguh luar biasa, Mak Mé selalu tidak pernah lupa membuat
masakan kesukaanku setiap kali aku berkunjung ke Semarang yaitu semur
tahu.
Malam
itu aku mendapat telpon dari Semarang yang memberitahukan bahwa Mak
Mé masuk ICU karena susah bernafas dan harus dibantu dengan
ventilator. Besoknya aku sekeluarga berangkat dari Bandung ke
Semarang untuk menengok Mak Mé. Di tengah perjalanan aku mendapat
berita bahwa Mak Mé berada dalam kondisi kritis, aku menyempatkan
untuk berbicara dengan Mak Mé di ruang ICU melalui telpon meskipun
beliau tidak lagi mampu untuk menjawab. Pukul empat sore kami kembali
mendapat berita bahwa “perjuangan Mak Mé sudah selesai”,
tugasnya di dunia sudah selesai dan Mak Mé sudah kembali ke
pangkuanNya menyusul Kong Asok yang sudah lebih dahulu berpulang
kira-kira 15 tahun yang lalu di usia yang sama, 81 tahun. Mak Mé
benar-benar luar biasa, beliau sudah mempersiapkan segala sesuatu
seperti; pakaian dan sepatu yang ingin dipakainya saat meninggal,
peniti, foto yg harus dipasang, uang 8 jt untuk pemakaman, kain untuk
dibagikan kepada anak-anaknya yg sudah diberi nama satu-satu, dll.
Mak Mé meninggal dunia dengan senyuman di wajahnya.
Hari-hari
perkabungan dan pemakaman Mak Mé berlangsung khidmat dan penuh
keharuan, dihadiri oleh teman-teman, handai taulan, seluruh anak cucu
buyut lengkap (kecuali seorang anak yg saat ini bermukim di Amerika). Namun di tengah keharuan yang ada, terselip kebanggaan bahwa kami pernah memiliki seorang ibu, nenek, yang kami panggil dengan sebutan Mak
Mé.
Selamat
jalan Mak Mé, We love you Mom, We love you Grandma.
(read more ...)