• Photo Galery

    • March 2010
      MSSRKJS
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031   
  • Archives

  • Content Tag

  • Testimonials

  • Blog Roll

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 7357 kali
  • Subcribe RSS of this blog
  • 30 Mei 2009

    A Prayer for Home Sweet Home

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Tuhan berkati rumah serta semua penghuni yang bermukim diantara dinding-dingingnya,

    Tuhan berkati atap rumah serta lantai-lantainya,

    Tuhan berkati ruangan dan kamar-kamarnya agar menyenanggkan bagi penghuninya,

    Tuhan berkati piring-piringnya agar makanan dapat disuguhkan dengan limpah kepada tamu-tamu dan sanak keluarga,

    Tuhan berkati kamar tidurnya agar penghuni yang beristirahat di dalamnya dapat berbaring dengan tenang sentosa,

    Tuhan berkati runah semoga menjadi tempat sejahtera, tempat penghuninya merasa betah dan tidak mau pergi mengembara,

    Tuhan berkati rumah, menjaga dan melindunginya agar supaya menjadi sebuah rumah yang sejati dan penuh bahagia.

    (read more ...)

    21 April 2009

    Kecantikan Seorang Wanita

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 1 buah

     

    Kecantikan seorang wanita bukanlah dilihat dari pakaian yang dikenakannya,
    sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.
    Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya,
    Karena itulah pintu hatinya ...... tempat dimana cinta itu ada.

    Selamat hari Kartini bagi segenap kaum perempuan di seluruh Indonesia

    (read more ...)

    18 Maret 2009

    Lebih dari sekedar "Pembantu"

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Bu Astinah adalah nama pembantu dari salah seorang Penatua gereja kami yaitu bapak Yusuf Santoso. Karena usianya yang sudah cukup tua (77 tahun), maka beliau biasa dipanggil si Mbok. Si Mbok telah tinggal bersama dengan keluarga bapak Yusuf Santoso dan istrinya bu Wahyuni selama lebih dari 50 tahun. Saking sayangnya dengan keluarga dimana dia tinggal, Astinah muda waktu itu menolak untuk dinikahkan supaya tidak harus meninggalkan keluarga bapak Yusuf Santoso. Saat usianya sudah mencapai lebih dari 75 tahun dan mulai sakit-sakitan (rematik dan jantung), adik dan keponakannya bermaksud untuk menjemput si Mbok untuk kembali ke desa kelahirannya di Jawa Timur. Namun lagi-lagi si Mbok dengan tegas menolak untuk kembali ke desa dan menyatakan bahwa beliau ingin tetap tinggal dengan keluarga bapak Yusuf Santoso sampai dia meninggal nanti.
    Pagi itu saya mendapat kabar bahwa si Mbok meninggal karena serangan jantung. Sore harinya saya ikut menghadiri upacara penutupan peti jenazah yang dilaksanakan di sebuah rumah duka di Bandung. Salah seorang anak dari bapak Yusuf Santoso dalam sambutannya menyatakan bahwa bagi mereka bu Astinah sudah menjadi bagian dari keluarga. Pelayanan bu Astinah selama 50 tahun lebih ini sungguh luar biasa. Dengan keberadaan bu Astinah di rumah, mereka tidak pernah merasa khawatir akan apapun karena segala sesuatu pasti beres. Mereka juga tidak pernah merasa khawatir bila suatu saat harus meninggalkan anak-anak di rumah karena yakin bahwa mereka berada di tangan yang akan mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Bu Astinah sudah menjadi seperti nenek sendiri bagi anak-anak di keluarga bapak Yusuf Santoso.
    Saya merasa terharu melihat betapa kepergian seorang "pembantu" dilepas dengan isak tangis dan rasa duka yang mendalam dari seluruh keluarga, anak menantu dan cucu-cucu majikannya lengkap dengan segenap handai taulan. Dari peristiwa ini saya dapat melihat bahwa pada dasarnya manusia diciptakan sama meskipun berbeda status sosial. Saling menghargai dan saling menyayangi dengan hati yang tulus ikhlas menjadi perekat yang mampu mengatasi segala perbedaan yang ada. Yaa...bu Astinah memang lebih dari sekedar "pembantu".... bu Astinah adalah bagian dari "keluarga".

    (read more ...)

    16 Januari 2009

    Selamat jalan Mak Mé

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 1 buah

    Mak Mé adalah panggilan akrab nenek kami yang sudah berusia 81 tahun. Panggilan “Mé” di kalangan kami artinya sama dengan mama atau ibu, sedangkan untuk papa atau ayah biasa dipanggil dengan sebutan “Asok”. Kebiasaan itu berlanjut hingga mereka mempunyai cucu-cucu dan panggilan akrabnya berubah menjadi Mak Mé dan Kong Asok, memang kalau diterjemahkan menjadi lucu juga karena panggilan itu berarti “nenek ibu” dan “kakek ayah”, tapi karena sudah biasa ya nggak jadi masalah.

    Mak Mé adalah seorang wanita yang luar biasa, lahir di tahun 1927 di desa Mranggen-Semarang dengan nama asli Tjan Riboet Nio. Pemberian nama yang agak “unik” ini dapat dipahami karena pada masa itu memang kondisi di Indonesia sedang berada pada jaman “ribut” karena peperangan melawan penjajah Belanda. Beliau menjadi teladan yang baik bagi 10 orang anak dan 15 cucu dan 7 buyutnya dalam hal semangatnya untuk bekerja keras, kedisiplinannya, idealismenya, dan ketaatannnya beribadah. Bahkan di masa tuanya yang ditandai dengan melemahnya jantung, tekanan darah yg tidak stabil, dan sendi-sendi yg aus dan membuatnya susah untuk berjalan, namun semangatnya masih sama dengan ketika masa mudanya. Perhatiannya kepada anak-anak, cucu, dan buyutnya sungguh luar biasa, Mak Mé selalu tidak pernah lupa membuat masakan kesukaanku setiap kali aku berkunjung ke Semarang yaitu semur tahu.

    Malam itu aku mendapat telpon dari Semarang yang memberitahukan bahwa Mak Mé masuk ICU karena susah bernafas dan harus dibantu dengan ventilator. Besoknya aku sekeluarga berangkat dari Bandung ke Semarang untuk menengok Mak Mé. Di tengah perjalanan aku mendapat berita bahwa Mak Mé berada dalam kondisi kritis, aku menyempatkan untuk berbicara dengan Mak Mé di ruang ICU melalui telpon meskipun beliau tidak lagi mampu untuk menjawab. Pukul empat sore kami kembali mendapat berita bahwa “perjuangan Mak Mé sudah selesai”, tugasnya di dunia sudah selesai dan Mak Mé sudah kembali ke pangkuanNya menyusul Kong Asok yang sudah lebih dahulu berpulang kira-kira 15 tahun yang lalu di usia yang sama, 81 tahun. Mak Mé benar-benar luar biasa, beliau sudah mempersiapkan segala sesuatu seperti; pakaian dan sepatu yang ingin dipakainya saat meninggal, peniti, foto yg harus dipasang, uang 8 jt untuk pemakaman, kain untuk dibagikan kepada anak-anaknya yg sudah diberi nama satu-satu, dll. Mak Mé meninggal dunia dengan senyuman di wajahnya.

    Hari-hari perkabungan dan pemakaman Mak Mé berlangsung khidmat dan penuh keharuan, dihadiri oleh teman-teman, handai taulan, seluruh anak cucu buyut lengkap (kecuali seorang anak yg saat ini bermukim di Amerika). Namun di tengah keharuan yang ada, terselip kebanggaan bahwa kami pernah memiliki seorang ibu, nenek, yang kami panggil dengan sebutan Mak Mé.

     

    Selamat jalan Mak Mé, We love you Mom, We love you Grandma.

    (read more ...)

    18 Desember 2008

    Arti Natal Yang Sesungguhnya

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 1 buah

    Natal........,
    Natal adalah sukacita, yang tidak harus selalu dirayakan dengan lampu-lampu atau hiasan berwarna-warni karena sukacita Natal yang sesungguhnya ada di hati.
    Natal adalah pengharapan, bagi dunia yang saat-saat ini mulai kehilangan harapan.
    Natal adalah kasih, salah satu "barang langka" yang sekarang ini mulai susah dicari dan banyak dipalsukan.
    Natal adalah keselamatan, sesuatu yang orang mau membayar berapapun untuk memperolehnya namun diberikan gratis oleh Sang Pencipta.

    Bangsa yang berjalan dalam gelap telah melihat terang yang besar, mereka yang diam di negeri kekelaman atasnya terang telah bersinar!
    SELAMAT NATAL 2008 & TAHUN BARU 2009!

    (read more ...)

    12 November 2008

    Suatu Pagi di Pantai Timur Pangandaran

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 1 buah

     

    Pagi itu kulihat sekelompok nelayan sedang menjaring ikan di pantai Timur Pangandaran. Kira-kira sepuluh orang bersama-sama menarik tali jaring yang sudah dibentangkan ke tengah laut, sepuluh orang lagi menarik dari sisi pantai yang lain, seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun kulihat diantara mereka. Empat orang nelayan lainnya berkeliling menggunakan perahu motor sambil berteriak-teriak untuk menggiring ikan-ikan supaya masuk ke jaring. Proses penarikan jaring terus berlangsung, dan luar biasa, pekerjaan yang menguras banyak tenaga ini berlangsung lebih dari dua jam! Yang lebih luar biasa lagi, pekerjaan ini dilakukan tanpa keluh kesah, para nelayan ini melakukannya dengan senyum dan penuh semangat.

    Setelah menunggu sekian lama, tiba saatnya jaring diangkat ke pinggir pantai. Aku dan istriku bergerak mendekat, ingin melihat berapa banyak hasil tangkapan mereka. Para nelayan dengan susah payah mengangkat jaringnya ke atas sambil sesekali dihantam deburan ombak yang cukup keras. Woi..! seekor ikan terlepas dari jaring dan lari ke laut lepas, ya sudahlah, tidak apa-apa.

    Seluruh isi jaring ditumpahkan ke dalam sebuah bakul dan sekelompok ibu-ibu langsung menyerbunya. Betapa terkejutnya aku & istriku! Separuh dari bakul berisi sampah dan rumput laut! Setelah dipilah-pilah didapatlah hasil tangkapan hari ini yaitu beberapa ekor udang, seekor ikan layur kecil, dua kilogram cumi-cumi, dan sisanya teri dan ikan-ikan kecil. Istriku membeli satu kilogram cumi-cumi hasil tangkapan mereka seharga Rp. 60.000 tanpa ditawar sebagai penghargaan atas kerja keras mereka. Seekor ikan layur kecil tadi juga dibelinya seharga Rp. 2.000.

    Aku tertegun memikirkan berapa hasil yang mereka peroleh dari kerja keras mereka sejak pagi buta. Itupun masih harus dibagi bersama sekitar tigapuluhan orang yang terlibat di dalamnya. Dan yang aku kagum dari mereka ialah tidak tampak wajah kekecewaan atau kekesalan diantara mereka. Dengan senyuman dan semangat yang sama mereka membereskan dan membersihkan peralatan-peralatan mereka dan beristirahat untuk kembali pada pagi berikutnya. Pagi itu aku belajar banyak dari para nelayan itu. Aku belajar untuk dapat selalu bersyukur atas apapun yang sudah aku terima. Aku belajar untuk dapat selalu bersemangat dan bersukacita dalam melaksanakan apapun juga meskipun hasilnya mungkin tidak selalu seperti dengan yang aku harapkan.

    (read more ...)

    19 Agustus 2008

    Dian Yang Tak Kunjung Padam

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Ku ingin jadi seperti Dian ...., Dian yang tak kunjung padam
    Dian yang memberikan kehangatan....., di kedinginan hati manusia
    Dian yang memancarkan sinar kehidupan....., di kegelapan dunia
    Ku ingin jadi seperti Dian.....,
    Dian yang tak kunjung padam.

    Note:
    Kupersembahan untuk para Pahlawan yg telah memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia

    (read more ...)

    03 Juli 2008

    All Of The Best

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Learn From The Best, Work With The Best, Do The Best, Pray For The Best, Expect For The Best, Miracle Happen!!!
    Sebuah statement menarik yg barusan saya baca dari buku Marketing Revolution by Tung Desem Waringin

    (read more ...)

    19 Juni 2008

    Setiap Kali Ku Menatap Cermin

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 0 buah

    Setiap kali ku menatap cermin...., pagi...siang.........maupun malam, dan yang pasti tiap kali selesai mandi Smile
    Kulihat wajah yang paling kukenal...........
    Wajah itu paling sering dihiasi dengan senyuman dan tawaLaughing, meskipun tak dapat kupungkiri bahwa kadangkala kujumpai wajah yang sedikit suramFrown, sedihCry, bahkan marah.......................Yell

    Setiap kali ku menatap cermin......, aku melihat salah satu karya terhebat dari Ilahi!
    Karya istimewa..............., unik dan tiada yang menyamai.........
    Setiap kali ku menatap cermin..........., kukatakan dalam hati.....
    Hai!..........kamu special! dan kamu bisa merubah dunia!

    (read more ...)

    09 Juni 2008

    Matematika Kehidupan

    Ditulis oleh Johanes Adi Purnama Putra dan telah dikomentari sebanyak 2 buah

    (+) tambah satu...! umurku bertambah satu .....teriak gembira seorang anak kecil yang berulang tahun
    (-) kurang satu......, ternyata setiap ulang tahun masa hidupku di dunia ini berkurang satu tahun
    (X) kalikan kebaikan, multiplikasikan hal-hal positif dalam diri kita untuk mengisi kehidupan ini, sebanyak-banyaknya....
    (:) bagikan............bagikan kasih sayang, perhatian, dan cinta ...bagi kesejahteraan dan kebahagian orang-orang yang ada di sekitar kita...

    Tuhan....... ajar kami menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana dalam menjalani kehidupan ini. Amin. 

    (read more ...)
    footer